nama : fani sara maulida
npm : 23214914
kelas : 1eb21
BAB 9. USAHA KECIL DAN MENENGAH
1. DEFINISI
adalah sebuah
istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling
banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri.
Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah:
“Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara
mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah
dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
2. PERKEMBANGAN JUMLAH UNIT DAN TENAGA
KERJA DI UKM
Data statistik menunjukkan jumlah unit usaha kecil mikro dan
menengah (UMKM) mendekati 99,98 % terhadap total unit usaha di Indonesia.
Sementara jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai 91,8 juta orang atau 97,3%
terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Menurut Syarif Hasan, Menteri
Koperasi dan UKM seperti dilansir sebuah media massa, bila dua tahun lalu
jumlah UMKM berkisar 52,8 juta unit usaha, maka pada 2011 sudah bertambah
menjadi 55,2 juta unit. Setiap UMKM rata-rata menyerap 3-5 tenaga kerja.
Maka dengan adanya penambahan sekitar 3 juta unit maka tenaga kerja yang
terserap bertambah 15 juta orang. Pengangguran diharapkan menurun dari 6,8%
menjadi 5 % dengan pertumbuhan UKM tersebut. Hal ini mencerminkan peran serta
UKM terhadap laju pertumbuhan ekonomi memiliki signifikansi cukup tinggi bagi
pemerataan ekonomi Indonesia karena memang berperan banyak pada sektor ril.
Negara besar dan kaya sumberdaya alam seperti Indonesia
dengan jumlah penduduk mendekati seperempat milyar membutuhkan kegiatan ekonomi
yang berpijak pada sektor ril. Investasi swasta (termasuk asing) perlu
diarahkan pada penanaman modal di sektor ril bukan non riil. Aliran dana
investasi yang berupa ‘hot money' hanya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi
yang semu dan rentan terhadap gejolak politik. Jika ini terjadi maka dapat
mengganggu perekonomian bangsa secara keseluruhan.
3. NILAI OUTPUT DAN NILAI TAMBAH
Data pemerintah menunjukkan bahwa dalam nilai riil, PDB dari UMK
di semua sector ekonomi pada tahun 1997 hanya 38 persen. Pada tahun 1998, pada
saat krisis ekonomi mencapai titik terburuknya dengan pertumbuhan ekonomi
nasional mencapai minus 13 persen, kontribusi output dari UMK dalam pembentukan
PDB riil naik hanya sedikit, yakni hamper 41 persen. Pada tahun 1999, pangsa
output agregat dari kelompok usaha ini naik ke sekitar 41,3 persen, dan setelah
itupada tahun 2000 naik lagi sedikit ke 40,4 persen dan kenaikan ini berlangsung
terus hingga 2006. Selama periode krisis (1997-1998) laju pertumbuhan output di
UMK tercatat minus 19,3 persen, dan setelah krisis kinerja UMK lebih baik,
walaupun dalam tahun-tahun pertama laju pertumbuhan rata-rata per tahun masih
negative sekitar 2,5 persen.
Tahun 2000 UM menyumbang PDB
riil sebesar 16,3 persen. Selama periode krisis, output-nya UM juga mengalami
pertumbuhan yang negative hampir 35%. Ini menunjukkan bahwa UM mengalami lebih
banyak kemunduran akibat krisis ekonomi daripada UMK. Sedangkan UB menyumbang
PDB riil sebesar 43 persen. Saat krisis UB juga mengalami penurunan yang
tinggi, namun setelah krisis perbaikan produksi di UB lebih baik daripada UMKM.
Laju pertumbuhan output selama periode 2001-2006:
UMK mengalami kenaikan dari
3,96 % menjadi 5,38%.
UM mengalami kenaikan dari
4,59% menjadi 5,44%
UB mengalami kenaikan dari 3,1%
menjadi 5,7%.
Dilihat dari pangsa PDB non migas, pangsa PDB UMKM lebih besar
daripada UB, dan sejak tahun 2005 cenderung meningkat terus. Dan sumbangan UMK
terhadap pembentukan PDB non migas dua kali lebih besar daripada UM.
Dipandang dari struktur PDB menurut skala usaha dan sektor tahun
2003-2006, UMKM memiliki keunggulan di sector yang berbasis sumber daya local
dan padat karya, seperti pertanian dan perdagangan, hotel dan restoran.
Sedangkan konsentrasi PDB dari UM terjadi di sejumlah sector tersier. Dengan
pangsa terbesar di sector keuangan da lainnya. Dan pangsa terbesar dari UB
adalah di sektor pertambangan dan industri manufactur.
Selain perbedaan dalam pemilikan factor-faktor utama penentu
produksi, variasi dalam pangsa PDB antara skala usaha itu juga bias dikarenakan
perbedaan dalam permasalahan dan kondisi eksternal ( termasuk tingkat
persaingan dan kebijakan pemerintah).
Pada awal era orde baru, pemerintah menerapkan kebijakan subtitusi
impor untuk mengembangkan industry nasional. Lalu pada decade 80-an kebijakan
tersebut diganti dengan kebijakan strategi promosi ekspor. Dari dua kebijakan
tersebut mengakibatkan perkembangan yang pesat pada industri skala besar. Di
era 70-an dan 80-an banyak UB muncul di industry manufaktur . Namun, UMKM juga
tidak mengalami penurunan dalam subsector industri.
Penjelasan utama dari kesanggupan UMKM diindonesia untuk tetap
bertahan di tengah –tengah persaingan persaingan ketat dari UB dan
barang-barang impor :
Kemampuan-kemampuan mereka
untuk mengeksplosit lowongan-lowongan yang ada
Mengonsentrasikan pada
kegiatan-kegiatan industry yang dicirikan oleh aglomorasi ekonomi daripada
skala ekonomi
Melayani pasar-pasar tertentu
yang dari sisi komersial tidak menguntungkan UB
Membuat barang-barang yang pada
proses produksinya tidak mudah diterapkan teknik/pola produksi massal
4. EKSPORT
Selain
kontribusinya terhadap pertumbuhan kesempatan kerja dan sebagai salah satu
sumber penting pendapatan, UKM di Indonesia juga sangat diharapkan karena
memang mempunyai potensi besar sebagai salah satu sumber penting perkembangan
(diversifikasi) dan pertumbuhan ekspor, khususnya ekspor manufaktur. Kemampuan
UKM Indonesia untuk merealisasikan potensi eskspornya ditentukan oleh suatu
kombinasi dari sejumlah faktor-faktor keunggulan relatif yang dimiliki UKM
Indonesia atas pesaing-pesaingnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam
konteks ekonomi/ perdagangan internasional, pengertian dari keunggulan relatif
dapat didekati dengan keunggulan komperatif . Keunggulan komporatif yang
dimiliki usaha kecil Indonesia terutama sifatnya yang padat karya (dan Indonesia
memiliki jumlah tenaga kerja yang besar), keterampilan “Tradisional“ yang
dimiliki pengusaha kecil (dan pekerja-pekerja) dalam mambuat produk terutama
barang-barang kerajinan (yang merupakan keterampilan masyarakat yang sudah
dimiliki lama dari generasi ke generasi), dan bahan baku yang berlimpah
(khususnya produk berbasis pertanian). Sayangnya Usaha kecil di Indonesia
relatif masih lemah terutama dalam SDM di banding manajemen, pemasaran, proses
produksi yang modern atau lebih maju (diluar produksi secara tradisional),
inovasi dan penguasaan teknologi.
5. FROSPEK UKM DALAM PERDAGANGAN BEBAS DAN
GLOBALISASI DUNIA
Bagi
setiap unit usaha dari semua skala dan di semua sektor ekonomi, era
perdagangan
bebas dan globalisasi perekonomian dunia di satu sisi akan menciptakan banyak
kesempatan. Namun disisi lain akan menciptakan bamyak tantangan yang apabila
tidak dapat dihadapi dengan baik akan menjelma menjadi ancaman. Bentuk
kesempatan dan tantangan yang akan muncul tentu akan berbeda menurut jenis
kegiatan ekonomi yang berbeda. Globalisasi perekonomian dunia juga memperbesar
ketidakpastian terutama karena semakin tingginya mobilisasi modal, manusia, dan
sumber daya produksi lainnya serta semakin terintegrasinya kegiatan produksi,
investasi dan keuangan antarnegara yang antara lain dapat menimbulkan
gejolak-gejolak ekonomi di suatu wilayah akibat pengaruh langsung
dariketikstabilan ekonomi di wilayah lain.
1. Sifat
Alami dari Keberadaan UKM
Laju
pertumbuhan negatif dari jumlah UK lebih kecil dibandingkan apa yang dialami
oleh UM dan UB. Perbedaan ini disuatu sisi memberi suatu kesan bahwa pada
umumnya UK lebih “ tahan banting” dibandingkan dua kelompok usaha lainnya itu
dalam menghadapi suatu gejolak ekonomi. Relatif lebih baiknya UK dibandingkan
UM atau UB dalam menghadapi krisis ekonomi tahun tahun 1998 tidak lepas dengan
sifat alami dari keberadaan UM, apalagi UB di indonesia. Sifat alami yang
berbeda ini sangat penting untuk dipahami, agar dapat memprediksi masa depan UK
atau UKM.
Seperti
dibanyak LCDs lainnya, UK di Indonsia didominasi oleh unit-unit usaha
tradisional, yang di satu sisi, dapat di bangun dan beroperasi hanya dengan
modal kerja dan modal investasi kecil dan tanpa perlu menerapkan sistem organisasi
dan manajemen modern yang kompleks dan mahal, seperti di usaha-usaha modern (UB
dan hingga tingkat tertentu UM), dan di sisi lain, berbeda dengan UM, UK pada
umumnya membuat barang-barang konsumsi sederhana untuk kebutuhan kelompok
masyarakat berpenghasilan rendah. Untuk membuat barang-barang tersebut, UK
tidak terlalu memerlukan L dengan tingkat pendidikan formal yang tinggi dan
harus digaji mahal (tidak perlu memakai seorang manajer dengan diploma MBA atau
yang memiliki diploma sarjana ekonomi atau seorang insinyur) dan tidak
membutuhkan teknologi (T) canggih dalam bentuk mesin-mesin dan alat-alat
produksi modern, oleh karena itu, tidak mengherankan bila melihat Indonesia
adalah dari kelompok masyarakat berpendidikan rendah (SD), dan kebanyakan dari
mereka menggunakan mesin serta alat produksi sederhana atau hasil rekayasa
sendiri.
Implikasi
dari sifat alami ini bebeda dengan UM dan UB. UK sebenarnya tidak terlalu
tergantung pada fasilitas-fasilitas dari pemerintah termasuk skim-skim krdit
murah. Banyak studi yang menunjukan bahwa ketergantungan UK terhadap modal dari
sumer-sumber informal jauh lebih besar daripada terhadap kredit perbankan
karena berbagai alasan.
2. Kemampuan
UKM
Dalam
era perdagangan bebas dan globalisasi perekonomian dunia, kemajuan T,
penguasaan ilmu pengetahuan, dan kualitas SDM yang tinggi (profesionalisme)
merupakan tiga faktor keunggulan kompetitif yang akan menjadi dominan dalam
menentukan bagus tidaknya prospek dari suatu usaha. Jika pengusaha kecil dan
menengah Indonesia tidak memiliki ketiga keunggulan kompetitif tersebut bahkan,
UKM indonesia akan terancam tergusur dari segmen pasarnya sendiri oleh
produk-produk M dengan harga yang lebih murah dan kualitas serta disain yang
lebih baik, seperti yang terjadi sekaarang dengan membanjirnya barang-barang
dari Cina sampai kepasar-pasar tradisional.
Pentingnya
ketiga faktor keunggulan kompetitif tersebut dikombinasikan dengan
faktor-faktor kekuatan lainnya yang sangat menentukan prospek UKM di masa
depan. Didalam era perdagangan bebas dan globalisasi perekonomian dunia,
lingkungan eksternal domestik dipengaruhi oleh tiga faktor penting, yang
merupakan tiga tantangan yang dihadapi oleh setiap perusahaan di Indonesia.
Jika perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak siap, tantangan-tantangan
tersebut bisa berubah menjadi Empat ancaman
SOAL :
1.
Menurut Keputusan
Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah …
a. “Kegiatan ekonomi
rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan
kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha
yang tidak sehat.” *
b. “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang
usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi
untuk mencegah dari persaingan usaha yang sehat.”
c. “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala besar dengan bidang
usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi
untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
d. “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala besar dengan bidang
usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi
untuk mencegah dari persaingan usaha yang sehat.”
2.
Indonesia membutuhkan
kegiatan ekonomi yang berpijak pada sector …
a. Non ril
b. Ril *
c. A dan b benar
d. A dan c salah
3.
kontribusi output dari UMK dalam pembentukan PDB riil naik hanya
sedikit, yakni hampir …. Persen
a.
35
b.
41 *
c.
40
d.
65
4.
Dibawah ini manakah
pernyataan yang benar …
a. UMK mengalami kenaikan dari 3,96 % menjadi
5,38%. *
b. UM mengalami kenaikan dari 4,9% menjadi 5,44%
c.
UB mengalami kenaikan dari 3,1% menjadi 6,7%.
d.
UMK mengalami kenaikan dari 3,96 % menjadi 5,8%.
5.
Keunggulan komporatif
yang dimiliki usaha kecil Indonesia …
a. Padat karya
b. Keterampilan tradisional
c. Bahan baku yang berlimpah
d. Semua jawaban benar *
BAB 10 PERDAGANGAN LUAR NEGERI
1. TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Teori Perdagangan Internasional
Dalam
kegiatan berdagang lintas negara yang selama ini dilakukan oleh banyak orang
tidaklah terlepas dari tokoh-tokoh yang mencetuskan adanya perdagangan
internasional.
Teori
perdagangan internasional dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni teori
klasik dan teori modern. Teori klasik yang banyak dikenal
adalah teori keunggulan absolut dari Adam Smith, dan teori keunggulan relative
atau keunggulan komparatif dari J.S. Mill dan David Ricardo.
Teori modern diwakili oleh teori faktor proporsi dari Hecksher dan
Ohlin. Berikut ini adalah paparan dari teori-teori tersebut.
·
Teori
Klasik Perdagangan Internasional
a. Teori keunggulan absolut (Adam Smith)
Adam Smith mengemukakan bahwa suatu negara akan melakukan spesialisasi
produksi terhadap suatu jenis barang tertentu yang memiliki keunggulan absolut
(absolute advantage) dan tidak memproduksi atau melakukan impor jenis barang
lain yang tidak mempunyai keunggulan absolut (absolute disadvantage) terhadap
negara lain yang memproduksi barang sejenis.
Keunggulan absolut dapat terjadi karena perbedaan keadaan, seperti letak
geografis, iklim, kekayaan sumber daya alam, kualitas tenaga kerja, tingkat
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), jumlah penduduk, modal, dan
lain-lain.
b. Teori Keunggulan relative/komparatif (J.S. Mill
dan David Ricardo)
J.S. Mill beranggapan bahwa suatu negara akan mengkhususkan diri pada
ekspor barang tertentu bila negara tersebut memiliki keunggulan komparatif
(keunggulan relatif) terbesar, dan akan mengkhususkan melakukan impor barang,
bila negara tersebut memiliki kerugian komparatif (kerugian relatif). Atau
dengan kata lain, suatu negara akan melakukan ekspor barang, bila barang itu
dapat diproduksi dengan biaya lebih rendah, dan akan melakukan impor barang,
bila barang itu diproduksi sendiri akan memerlukan biaya produksi yang lebih
besar.
David Ricardo mempunyai pemikiran
yang senada, yaitu perdagangan internasional antara dua negara akan terjadi
bila masing-masing memiliki biaya relatif yang terkecil untuk jenis barang yang
berbeda.
Sebagai contoh perhatikan ilustrasi
sebagai berikut! Berdasarkan efisiensi tenaga kerja, di Indonesia untuk
memproduksi 1 kemeja seorang pekerja hanya membutuhkan 1 hari kerja, dan untuk
memproduksi 1 pasang sepatu diperlukan waktu 2 hari kerja. Di Filipina, untuk
memproduksi 1 kemeja dan 1 pasang sepatu diperlukan masingmasing 4 dan 3 hari
kerja.
·
Teori
Modern perdagangan Internasional
Teori Heckscher-Ohlin
(H-O) menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik, negara-negara
cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang
relatif melimpah secara intensif. Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan
melakukan perdagangan dengan negara laindisebabkan negara tersebut memiliki
keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan faktor
produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah:
a. Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi di
dalam suatu negara.
b. Faktor intensity, yaitu teknologi yang digunakan di dalam
proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity.
Teori modern
Heckescher-Ohlin atau teori H-O menggunakan dua kurva pertama adalah kurva
isocost yaitu kurva yang menggambarkan total biaya produksi yang sama. Dan
kurva isoquant yaitu kurva yang menggambarkan total kuantitas produk yang sama.
Menurut teori ekonomi mikro kurva isocost akan bersinggungan dengan kurva
isoquant pada suatu titik optimal. Jadi dengan biaya tertentu akan diperoleh
produk yang maksimal atau dengan biaya minimal akan diperoleh sejumlah produk
tertentu. Analisis hipotesis H-O dikatakan berikut:
a. Harga atau biaya
produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau proporsi faktor produksi
yang dimiliki masing-masing negara.
b. Comparative
Advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing
negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang
dimilikinya.
c. Masing-masing negara
akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu
karena negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif banyak dan murah
untuk memproduksinya.
d. Sebaliknya
masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu karena negara
tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk
memproduksinya.
e. Kelemahan dari teori
H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing
negara relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga
perdagangan internasional tidak akan terjadi.
2. PERKEMBANGAN EKSPOR INDONESIA
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, dalam kurun waktu
2009‐2013 nilai ekspor
Indonesia mengalami peningkatan dari 116.510 juta US$ tahun
2009 menjadi 182.551,8 juta
US$ atau mengalami peningkatan sebesar 11,45%. Dalam periode
ini ekspor migas
mengalami peningkatan dari 19.018,3 juta US$ tahun 2009
menjadi 32.633 juta US$ tahun
2013 atau meningkat sebesar 14,53%. Hal yang sama juga
terjadi dengan ekspor non‐migas
yang mengalami peningkatan dari 97.491,7 juta US$ tahun 2009
menjadi 149.918,8 juta US$
atau meningkat sebesar 10,80%. Pada periode 2009‐2013
pertumbuhan nilai ekspor migas
lebih tinggi dari non‐migas.
Walaupun demikian, terdapat perkembangan yang kurang
menggembirakan. Data
Tabel 1 menunjukkan, perkembangan nilai ekspor Indonesia
periode 2009‐2013 mengalami
fluktuasi. Pada tahun 2009, nilai ekspor mencapai 116.510
juta US$, lalu meningkat menjadi
157.779,1 juta US$ tahun 2010 dan mencapai puncak pada tahun
2011, yaitu 203.496,6 juta
US$. Setelah itu, nilai ekspor terus mengalami penurunan
menjadi 190.020,1 juta US$ tahun
2012 dan turun lagi menjadi 182.551,8 juta US$ tahun 2013.
3. TINGKAT DAYA SAING
Daya
saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara
di dalam perdagangan internasional. Berdasarkan badan pemeringkat daya saing
dunia, IMD World Competitiveness Yearbook 2006, posisi daya saing
Indonesia sangat menyedihkan. IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) adalah sebuah laporan mengenai
daya saing negara yang dipublikasikan sejak tahun 1989. Pada tahun 2000, posisi
daya saing Indonesia menduduki peringkat 43 dari 49 negara. Tahun 2001 posisi
daya saing Indonesia semakin menurun, yaitu menduduki peringkat 46.
Selanjutnya, tahun 2002 posisi daya saingnya masih menduduki posisi bawah,
yaitu peringkat 47. Lalu, tahun 2003, posisi daya saingnya malah makin
terpuruk, yaitu menduduki peringkat 57. Tahun 2004 menduduki peringkat 58.
Tahun 2005 Indonesia menduduki posisi 58. Tahun 2006 Indonesia telah menduduki
posisi 60. Posisi daya saing yang cenderung makin menurun membuktikan
bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki di negeri ini. Sebagai negara yang
memiliki wilayah daratan sebesar 1,9 juta kilometer persegi dan luas wilayah
lautan lebih dari 3,2 juta kilometer persegi, serta kekayaan alamnya yang
tersebar luas, sangat disayangkan karena daya saing Indonesia jauh di bawah
negara tetangga.
Faktor dalam
menentukan daya saing menurut IMD World Competitiveness Yearbook terbagi menjadi 4 kategori yaitu,
kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, infrastruktur. Setiap
kategori memiliki beberapa kriteria. IMD World Competitiveness Yearbook
(WCY) memeringkat dan menganalisis kemampuan suatu negara dalam menciptakan dan
menjaga lingkungan di mana perusahaan dapat bersaing. Persaingan akan membawa
suatu negara lebih kompetitif dibandingkan dengan negara lain.
Kinerja ekonomi
terdiri dari 77 kriteria mengenai evaluasi makro ekonomi domestik. Kriteria
kinerja ekonomi meliputi ekonomi domestik, perdagangan internasional, investasi
internasional, pengangguran dan harga.
Efisiensi pemerintah
terdiri dari 72 kriteria mengenai kebijakan pemerintah yang mempengaruhi iklim
kompetitif. Kriteria efisiensi pemerintah meliputi keuangan publik, kebijakan
fiskal, kerangka kerja institusi, peraturan bisnis, dan kerangka kerja sosial.
Efisiensi bisnis
terdiri dari 68 kriteria yang mempengaruhi kinerja perusahaan dalam inovasi,
keuntungan dan tanggung jawab. Kriteria efisiensi bisnis meliputi produktivitas
dan efisiensi, pasar tenaga kerja, pembiayaan, perilaku dan praktik
SOAL :
1. Teori
perdagangan internasional digolongkan menjadi dua yaitu …
a. Teori
klasik
b. Teori
modern
c. A
dan b benar *
d. A
dan b salah
2. Basis
dari keunggulan komparatif adalah …
a.
Faktor endowment
b.
Faktor intensity
c.
Salah semua
d.
Benar semua *
3. Faktor intensity…
a.
teknologi yang digunakan di dalam proses
produksi, apakah labor intensity atau capital intensity *
b.
teknologi yang digunakan di dalam proses
produksi dan konsumen, apakah labor intensity atau capital intensity
c.
teknologi yang digunakan di dalam proses
konsumen, apakah labor intensity atau capital intensity
d.
teknologi yang digunakan di dalam proses
konsumsi, apakah labor intensity atau capital intensity
4. Pada periode 2009‐2013 pertumbuhan
nilai ekspor migas ….
a. lebih tinggi dari non‐migas. *
b. seimbang
c. lebih
rendah dari non migas
d. sama
rata
5. Daya saing merupakan …
a. salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara
di dalam perdagangan internasional *
b. salah satu kriteria yang menentukan kemunduran suatu negara
di dalam perdagangan internasional
c. salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan dan
kemunduran suatu negara di dalam perdagangan internasional
d. salah satu kriteria yang menentukan suatu negara di dalam
perdagangan internasional
BAB 11 NERACA
PEMBAYARAN , ARUS MODAL ASING, DAN UTANG LUAR NEGERI
1. NERACA PEMBAYARAN
Neraca pembayaran merupakan suatu
ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan
penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca
pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari
individu dan pemerintah asing,
dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca
transaksi berjalan (yang terdiri dari neraca perdagangan, neraca jasa dan
transfer payment) dan neraca lalu lintas modal dan
finansial, dan item-item finansial.
Transaksi dalam neraca pembayaran dapat dibedakan dalam dua
macam transaksi.
·
Transaksi debit, yaitu
transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari
dalam negeri ke luar negeri. Transaksi ini disebut transaksi negatif (-), yaitu
transaksi yang menyebabkan berkurangnya posisi cadangan devisa.
·
Transaksi kredit adalah
transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke
dalam negeri. Transaksi ini disebut juga transaksi positif (+), yaitu transaksi
yang menyebabkan bertambahnya posisi cadangan devisa negara.
2.
ARUS
MODAL ASING
Neraca modal yang menggambarkan arus
keluar masuk devisa yang bukan merupakan pembayaran atas barang atau jasa. Arus
devisa yang di catat di neraca modal ialah devisa dalam arti arus modal masuk,
baik berupa dana investasi maupun pinjaman atau utang luar negeri. Investasi
dan pinjaman dari luar negeri merupakan arus masuk. Sedangkan investasi kita ke
luar negeri dan pinjaman yang kita berikan kepada pihak luar negeri dicatat
dalam arus keluar. Sebagian besar pinjaman luar negeri yang diperoleh
pemerintah berasal dari sebuah konsorsium bernama Consultative Group for
Indonesia (CGI) yang sebelumnya bernama Inter Group on Indonesia (IGGI).
Arus modal asing bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar ketimbang risikonya
jika dikelola dengan benar. Diperkirakan hingga akhir tahun ini arus modal
asing yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar US$25 miliar. Manfaat tersebut
antara lain, penurunan biaya bunga APBN, sumber investasi swasta, pembiayaan
Foreign Direct Investment (FDI) dan kedalaman pasar modal. Sementara risikonya
adalah terjadinya pembalikan, tekanan penguatan rupiah dan gelembung ekonomi.
Pemerintah perlu lebih aktif lagi untuk mendorong perusahaan swasta untuk masuk
bursa lewat penawaran saham perdana (IPO) atau right issue. kemudian,
memperbanyak penerbitan obligasi negara dengan berbagai macam seri dan jangka
waktu.
3. UTANG LUAR NEGERI
·
utang luar
negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2014 tercatat USD269,3 miliar sehingga
tumbuh 7,1% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Desember 2013
sebesar 4,6% (yoy). Peningkatan pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi
oleh kenaikan posisi ULN sektor swasta sebesar 12,2% (yoy) menjadi USD141,4
miliar. Sementara itu, posisi ULN sektor publik tumbuh sebesar 1,9% (yoy)
menjadi USD127,9 miliar. Jika dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya, ULN
sektor swasta hanya tumbuh 0,6%, sementara ULN sektor publik meningkat
3,5% * (mtm).
·
Berdasarkan
jangka waktu, kenaikan pertumbuhan ULN terutama terjadi pada ULN jangka
panjang. ULN berjangka panjang pada Januari 2014 tumbuh 7,1% (yoy), lebih
tinggi dari pertumbuhan bulan Desember 2013 sebesar 4,1% (yoy). Sementara itu,
ULN berjangka pendek tumbuh 7,0% (yoy), sedikit lebih lambat dibandingkan
dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,1% yoy. Pada Januari 2014, ULN
berjangka panjang tercatat sebesar USD222,8 miliar, atau mencapai 82,7% dari
total ULN. Dari jumlah tersebut, ULN berjangka panjang sektor publik
mencapai USD121,5 miliar (95,0% dari total ULN sektor publik), sementara ULN
berjangka panjang sektor swasta sebesar USD101,3 miliar (71,7% dari total ULN
swasta).
·
Untuk ULN
swasta, peningkatan pertumbuhan terjadi pada ULN sektor finansial dan sektor
pengangkutan & komunikasi. ULN sektor swasta terutama terarah pada
lima sektor ekonomi, yaitu sektor keuangan (pangsa 26,5% dari total ULN
swasta), sektor industri pengolahan (pangsa 20,4%), sektor pertambangan dan
penggalian (pangsa 18,1%), sektor listrik, gas, dan air bersih (pangsa 11,6%),
dan sektor pengangkutan dan komunikasi (pangsa 7,6%). Dari kelima sektor
tersebut, dua sektor yaitu sektor keuangan dan sektor pengangkutan dan
komunikasi mencatat kenaikan pertumbuhan pada Januari 2014 masing-masing
sebesar 11,1% (yoy) dan 5,8% (yoy), dari bulan sebelumnya sebesar 5,7% (yoy)
dan 4,4% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan ULN sektor pertambangan dan
penggalian dan sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 20,4% (yoy) dan 11,7%
(yoy), lebih lambat dari 26,1% (yoy) dan 12,1% (yoy) pada bulan sebelumnya. Di
sisi lain, ULN sektor listrik, gas, dan air bersih masih mengalami
kontraksi sebesar 1,7% (yoy).
·
Bank Indonesia
memandang perkembangan ULN tersebut masih cukup sehat dalam menopang ketahanan
sektor eksternal tercermin pada posisi ULN Januari 2014 yang cukup terkendali
di level 30,8% dari PDB.Peningkatan pertumbuhan ULN Januari 2014 antara lain
tidak terlepas dari kebutuhan kebutuhan pembiayaan ekonomi, termasuk melalui
utang luar negeri. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau
perkembangan ULN Indonesia, terutama ULN jangka pendek swasta, sehingga tetap
optimal mendukung perekonomian Indonesia.
SOAL :
1. Transaksi dalah neraca pembayaran ada
2 yaitu ..
a. Transaksi kredit
b. Transaksi debit
c. Jawaban a dan b benar *
d. Jawaban a dan b salah
2. Transaksi kredit adalah …
a. transaksi yang
menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke dalam negeri. *
b. transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari
luar dan dalam negeri ke dalam negeri.
c. transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari
dalam negeri ke luar negeri
d. transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari
dalam negeri ke luar negeri
3. CGI singkatan dari …
a. Consultative Gerak for Indonesia
b. Consultative Group for *
c. Consultative Group for India
d. Consultative Group for Irlandia
4. Untuk ULN swasta, peningkatan
pertumbuhan terjadi pada ULN sector …
a. finansial dan sektor pengangkutan
& komunikasi *
b. finansial dan sektor pengangkutan
& pengikat
c. finansial dan sektor pengangkutan
d. sektor pengangkutan &
komunikasi
5. ULN singkatan dari …
a. Utang liar negeri
b. Usaha luar negeri
c. Utang luar negeri *
d. Usaha liar negeri
Sumber :