kelas : 1eb21
npm: 23214914
V. KEMUNGKINAN DAN KESENJANGAN
1.
Konsep dan pengertian kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana
terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian
, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas
hidup .
Konsep kemiskinan dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. David Harry Penny
(1990:140) mendefinisikan kemiskinan absolut dalam kaitannya dengan suatu
sumber-sumber materi, yang dibawahnya tidak ada kemungkinan kehidupan
berlanjut; dengan kata lain hal ini adalah tingkat kelaparan. Sedangkan
kemiskinan relatif adalah perhitungan kemiskinan yang didasarkan pada proporsi
distribusi pendapatan dalam suatu negara. World Bank (BPS dalam Haryati,
2003:95) menyusun ukuran kemiskinan relatif yang sekaligus digunakan untuk
mengukur tingkat pemerataan, yaitu dengan membagi penduduk menjadi tiga
kelompok: (1) kelompok 40% penduduk berpendapatan rendah, 40% penduduk
berpendapatan menengah dan 20% penduduk berpendapatan tinggi.
2. Garis kemiskinan
Garis kemiskinan atau
batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi
untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam
praktiknya, pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan
juga definisi kemiskinan) lebih tinggi di negara maju daripada di negara
berkembang.
Hampir setiap
masyarakat memiliki rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Garis kemiskinan
berguna sebagai perangkat ekonomi yang dapat digunakan untuk mengukur rakyat
miskin dan mempertimbangkan pembaharuan sosio-ekonomi, misalnya seperti program
peningkatan kesejahteraan dan asuransi pengangguran untuk menanggulangi kemiskinan.
3.
Penyebab dan dampak kemiskinan
·
Penyebab
individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
·
Penyebab keluarga,
yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab keluarga
juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan
keuangan keluarga.
·
Penyebab
sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
·
Penyebab agensi,
yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang,
pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau
honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lainPenyebab struktural, yang
memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
4.
Pertumbuhan dan
kesenjangan kemiskinan
*Pertumbuhan
Salah satu penyebab utama rendahnya kualitas pertumbuhan adalah korupsi. Praktik-praktik korupsi di segala lini kehidupan menyebabkan investasi terhambat. Pengusaha membutuhkan dana lebih besar untuk menjalankan usahanya.Di masa Orde Baru yang kita yakini tingkat korupsinya sangat parah, pengusaha masih bisa meraup laba karena persaingan dari luar negeri dibatasi dengan berbagai bentuk perlindungan.Korupsi juga menyebabkan kualitas infrastruktur rendah. Penggelembungan nilai proyek dan pemotongan standar baku yang dipersyaratkan dalam kontrak membuat kualitas bangunan sangat buruk sehingga cepat rusak.
Salah satu penyebab utama rendahnya kualitas pertumbuhan adalah korupsi. Praktik-praktik korupsi di segala lini kehidupan menyebabkan investasi terhambat. Pengusaha membutuhkan dana lebih besar untuk menjalankan usahanya.Di masa Orde Baru yang kita yakini tingkat korupsinya sangat parah, pengusaha masih bisa meraup laba karena persaingan dari luar negeri dibatasi dengan berbagai bentuk perlindungan.Korupsi juga menyebabkan kualitas infrastruktur rendah. Penggelembungan nilai proyek dan pemotongan standar baku yang dipersyaratkan dalam kontrak membuat kualitas bangunan sangat buruk sehingga cepat rusak.
*Kesenjangan
Kesenjangan adalah adanya jarak yang cukup jauh antara 2 karakter atau keberadaan oranng yang berbeda baik dari sector ekonomi,social,dan lain sebagainya.
Kesenjangan adalah adanya jarak yang cukup jauh antara 2 karakter atau keberadaan oranng yang berbeda baik dari sector ekonomi,social,dan lain sebagainya.
*Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
5.
Indicator kesenjangan dan kemiskinan
Ada sejumlah cara mengukur tingkat kesenjangan dalam
distribusi pendapatan yang dapat dibagi kedalam dua kelompok pendekatan, yakni
axiomatic dan stochastic dominance. Yang sering digunakan didalam literatur
adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yakni the
generalized entropy (GE), ukuran Atkinson dan koefisien Gini. Rumus dari GE
dapat diuraikan sebagai berikut :
n
GE (α) = (1 / ( α2 – α | (1 / n) ∑ (yi / Y^)α – 1 |
i=1
Bank dunia mengklasifikasikan ketidakmerataan berdasarkan tiga lapisan:
1 40 % penduduk berpendapatan terendahè Penduduk termiskin
2 40 % penduduk berpendapatan menengah
3 20 % penduduk berpendapatan tinggi
Untuk mengukur kemiskinan ada tiga indicator yang diperkenalkan oleh foster dkk (1984) yang sering digunakan dalam banyak study empiris. Pertama , the incidence of poverty: persentase dari populasi yang hidup didalam keluarga dengan pengeluaran konsumsi per kapita dibawah garis kemiskinan. Indeksnya sering disebut rasio H. kedua, the depth of poverty yang menggambarkan dalamnya kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan poverty gap index. Indeks ini megestimasikan jarak/ perbedaan rata-rata pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan sebagai suatu proporsi dari garis tersebut yang dapat dijelaskan dengan formula berikut.
Pa = (1/n) ∑i[(z – yi)/ z]a untuk semua yi < z
n
GE (α) = (1 / ( α2 – α | (1 / n) ∑ (yi / Y^)α – 1 |
i=1
Bank dunia mengklasifikasikan ketidakmerataan berdasarkan tiga lapisan:
1 40 % penduduk berpendapatan terendahè Penduduk termiskin
2 40 % penduduk berpendapatan menengah
3 20 % penduduk berpendapatan tinggi
Untuk mengukur kemiskinan ada tiga indicator yang diperkenalkan oleh foster dkk (1984) yang sering digunakan dalam banyak study empiris. Pertama , the incidence of poverty: persentase dari populasi yang hidup didalam keluarga dengan pengeluaran konsumsi per kapita dibawah garis kemiskinan. Indeksnya sering disebut rasio H. kedua, the depth of poverty yang menggambarkan dalamnya kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan poverty gap index. Indeks ini megestimasikan jarak/ perbedaan rata-rata pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan sebagai suatu proporsi dari garis tersebut yang dapat dijelaskan dengan formula berikut.
Pa = (1/n) ∑i[(z – yi)/ z]a untuk semua yi < z
6.
Kemiskinan di Indonesia
·
Gambaran kekurangan
materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang,
perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai
situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
·
Gambaran tentang
kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan
untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan
informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal
ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua
gambaran yang lainnya.
·
Gambaran tentang
kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di
sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh
dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di
luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja
melarang.
7. Faktor penyebab kemiskinan
1. Dilihat dari Faktor Individu
Penyebab individual yakni kemiskinan sebagai akibat dari perilaku atau kemampuan dari orang tersebut. Misalnya, malas atau malah menunggu sesuatu yang sifatnya spekulasi.
2. Dilihat dari Faktor Keluarga
Penyebab keluarga bukan lagi faktor individu yang sering dilontarkan oleh kelompok yang mengatakan kemiskinan tidak akan timbul jika adanya kemauan kuat dari dirinya. Faktor ini menghubungkan kemiskinan karena keadaan dan pendidikan keluarga.
3. Dilihat dari Faktor Subkultural
Penyebab sub-budaya atau kebiasaan yang menghubungkan faktor kemiskinan disebabkan oleh kehidupan sehari-hari yang dipelajari atau dijalankan dalam lingkungannya. Karena lingkungannya sudah seperti itu, orang pun secara tidak sengaja
Penyebab individual yakni kemiskinan sebagai akibat dari perilaku atau kemampuan dari orang tersebut. Misalnya, malas atau malah menunggu sesuatu yang sifatnya spekulasi.
2. Dilihat dari Faktor Keluarga
Penyebab keluarga bukan lagi faktor individu yang sering dilontarkan oleh kelompok yang mengatakan kemiskinan tidak akan timbul jika adanya kemauan kuat dari dirinya. Faktor ini menghubungkan kemiskinan karena keadaan dan pendidikan keluarga.
3. Dilihat dari Faktor Subkultural
Penyebab sub-budaya atau kebiasaan yang menghubungkan faktor kemiskinan disebabkan oleh kehidupan sehari-hari yang dipelajari atau dijalankan dalam lingkungannya. Karena lingkungannya sudah seperti itu, orang pun secara tidak sengaja
akan menjalani pola hidup yang sama. Misalnya, penduduk suatu daerah
bekerja sebagai tukang bangunan. Maka, secara tidak disadari, hal ini menular
kepada penduduk yang lain. Selain itu, kita sering menjumpai orang yang
berjualan berasal dari suatu daerah yang sama
8. Kebijakan anti kemiskinan
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi
kemiskinan diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan
sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yakni jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Intervensi jangka pendek adalah
terutama pembangunan sector pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan. Hal
ini sangat penting melihat kenyataan bahwa disatu pihak, hingga saat ini
sebagian besar wilayah Indonesia masih pedesaan dan sebagian penduduk Indonesia
CONTOH SOAL
1. Konsep kemiskinan dibagi menjadi 2
yaitu..
a. Kemiskinan absolut c. a dan b salah
b. Kemiskinan relative d. a dan b benar *
2. Garis kemiskinan atau batas
kemiskinan adalah …
a. tingkat minimum pendapatan yang
dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu
Negara *
b. keadaan dimana terjadi ketidakmampuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar
c. adanya jarak yang cukup jauh antara 2
karakter atau keberadaan oranng yang berbeda baik dari sector
ekonomi,social,dan lain sebagainya
d. tingkat maksimum pendapatan yang
dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu
Negara
3. Penyebab sub-budaya (subcultural)
adalah ….
a. yang melihat kemiskinan sebagai
akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
b. yang menghubungkan kemiskinan dengan
pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota
keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga
c. yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar *
d. yang melihat kemiskinan sebagai
akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi
4. Bank dunia mengklasifikasikan
ketidakmerataan berdasarkan tiga lapisan,kecuali
a. 40 % penduduk berpendapatan terendahè Penduduk termiskin
b. 40 % penduduk berpendapatan menengah
c. 20 % penduduk berpendapatan tinggi
a. 40 % penduduk berpendapatan terendahè Penduduk termiskin
b. 40 % penduduk berpendapatan menengah
c. 20 % penduduk berpendapatan tinggi
d.20% penduduk berpendapatan rendah
5. Faktor penyebab
kemiskinan , kecuali …
a. Agensi *
b. Individu
c. Keluarga
d. subkultural
VI
PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH DAN OTONOMI DAERAH
1. UUD otonomi daerah
UU Otonomi DaerahUU otonomi daerah di Indonesia merupakan dasar
hukum pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia.UU otonomi daerah di Indonesia
merupakan payung hukum terhadap seluruh peraturan perundang-undangan yang
mengatur mengenai pelaksanaan otonomi daerah di bawah UU otonomi daerah
UU otonomi daerah itu sendiri
merupakan implementasi dari ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar
1945 (UUD 1945) yang menyebutkan otonomi daerah sebagai bagian dari sistem tata
negara Indonesia dan pelaksanaan pemerintahan di Indonesia. Ketentuan mengenai
pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia tercantum dalam pasal 18 ayat (2)
Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa:
“Pemerintahan daerah propinsi, daerah
kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut
asas otonomi dan tugas pembantuan”.
Selanjutnya Undang-Undang Dasar 1945
memerintahkan pembentukan UU Otonomi Daerah untuk mengatur mengenai susunan dan
tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah, sebagaimana disebutkan dalam
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18 ayat (7), bahwa:
“Susunan dan tata cara
penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang”.
Ketentuan tersebut diatas menjadi
payung hukum bagi pembentukan UU otonomi daerah di Indonesia, sementara UU
otonomi daerah menjadi dasar bagi pembentukan peraturan lain yang tingkatannya
berada di bawah undang-undang menurut hirarki atau tata urutan peraturan
perundang-undangan di Indonesia.
Otonomi daerah di Indonesia
dilaksanakan segera setelah gerakan reformasi 1998. Tepatnya pada tahun 1999 UU
otonomi daerah mulai diberlakukan. Pada tahap awal pelaksanaannya, otonomi
daerah di Indonesia mulai diberlakukan berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah. Setelah diberlakukannya UU ini, terjadi
perubahan yang besar terhadap struktur dan tata laksana pemerintahan di
daerah-daerah di Indonesia.
2.
Perubahan penerimaan daerah & peranan pendapatan asli
daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) memiliki
peran yang cukup signifikan dalam menentukan kemampuan daerah untuk melakukan
aktivitas pemerintahan dan program-program pembangunan. Dana untuk pembiayaan
pembangunan daerah terutama digali dari sumber kemampuan sendiri dengan prinsip
peningkatan kemandirian dalam pelaksanaan pembangunan. Dengan kata lain,
pemerintah daerah dipacu untuk meningkatkan kemampuan seoptimal mungkin didalam
membelanjai urusan rumah tangga sendiri, dengan cara menggali segala sumber
dana potensial yang ada di derah. Sumber penerimaan (PAD) yang dimaksud adalah
pajak daerah, retribusi daerah,
bagian laba BUMD, penerimaan dari dinas-dinas dan
penerimaan lain-lain, juga penerimaan dari bagi hasil bukan pajak, sumbangan
dan bantuan baik pemerintah pusat maupun dari pemerintah Provinsi sebagai
atasannya serta penerimaan pembangunan berupa pinjaman. Kontribusi Pendapatan
Asli Daerah terhadap pembangunan Pemerintah Kabupaten Kepulauan sula dalam
kurun waktu Tahun Anggaran (TA) 2009 – 2011 cukup signifikan dengan rata-rata
kontribusi sebesar 80% per tahun. Kontribusi penerimaan (PAD) terhadap
Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula tercermin dalam APBD-nya, dikaitkan
dengan kemampuannya untuk melaksanakan otonomi daerah terlihat cukup baik.
Untuk meningkatkan kontribusi penerimaan PAD dan sekaligus memperbesar
kontribusinya terhadap APBD Pemerintah Kabupaten Kepulauan
Sula, maka Pemda perlu melakukan beberapa langkah di antaranya peningkatan
pemungutan pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba BUMD, penerimaan dari
dinas-dinas dan penerimaan lain-lain, juga penerimaan dari bagi hasil bukan
pajak yang sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada
3. Pembangunan perekonomian regional
Perkembangan teori ekonomi pertumbuhan dan meningkatnya
ketersediaan data daerah mendorong meningkatnya perhatian terhadap
ketidakmerataan pertumbuhan daerah. Teori ekonomi pertumbuhan dimulai oleh
Robert Solow yang dikenal dengan Model pertumbuhan neo-klasik. Dan beberapa
ahli ekonomi Amerika mulai menggunakan teori pertumbuhan tersebut dengan
menggunakan data-data daerah.
Untuk melihat ketidaknmerataan pertumbuhan regional dapat ditentukan dengan beberapa cara. Secara umum dalam menghitung pertumbuhan dengan; 1. pertumbuhan output; 2. pertumbuhan output per pekerja; dan, 3. pertumbuhan output perkapita. Pertumbuhan output digunakan untuk mengetahui indikator kapasitas produksi. Pertumbuhan output per pekerja seringkali digunakan untuk mengetahui indikator dari perubahan tingkat kompetitifitas daerah, sedangkan pertumbuhan output perkapita digunakan sebagai indikator perubahan dari kesejahteraan
Untuk melihat ketidaknmerataan pertumbuhan regional dapat ditentukan dengan beberapa cara. Secara umum dalam menghitung pertumbuhan dengan; 1. pertumbuhan output; 2. pertumbuhan output per pekerja; dan, 3. pertumbuhan output perkapita. Pertumbuhan output digunakan untuk mengetahui indikator kapasitas produksi. Pertumbuhan output per pekerja seringkali digunakan untuk mengetahui indikator dari perubahan tingkat kompetitifitas daerah, sedangkan pertumbuhan output perkapita digunakan sebagai indikator perubahan dari kesejahteraan
4. Faktor-faktor
penyebab ketimpangan
Ada 2 faktor penyebab ketimpangan
pembangunan, faktor pertama adalah karena ketidaksetaraan anugerah awal
(initial endowment) diantara pelaku-pelaku ekonomi. Sedangkan faktor kedua
karena strategi pembangunan dalam era PJP I lebih bertumpu pada aspek pertumbuhan
(growth).
Sebagian ketidaksetaraan anugerah awal itu bersifat
alamiah (natural) atau bahkan ilahiah. Akan tetapi sebagian lagi bersifat
structural. Ketidaksetaraan itu berakibat peluang dan harapan untuk berkiprah
dalam pembangunan menjadi tidak seimbang.
Ditumpukkannya strategi pembangunan pada aspek petumbuhan,
bukanlah tidak beralasan. Secara akademik, baru pertumbuhanlah yang telah
memiliki teori-teori yang mantap dalam konsep pertumbuhan ekonomi. Oleh
karenanya tidaklah mengherankan kalau rancangan pebangunan lebih menyandarkan
rencana pembangunannya pada aspek pertumbuhan.
5.
Pembangun Indonesia
bagian timur
Indonesia bagian timur harus dibangun, harus dikembangkan
terus, untuk memperkuat perekonomian di Indonesia, koridor ekonomi di Sulawesi,
Bali, Nusa Tenggara, Papua, dan Kepulauan Maluku, masih mencatat angka buruk di
semua indikator kesejahteraan penduduk, kemiskinan, dan gizi buruk,” katanya
dalam Seminar ‘Indonesia Tanpa Kemiskinan’, di FEUI, Kampus Depok, Selasa
(31/5/2011).
Padahal, kata Emil, Papua dan Maluku dapat diandalkan sebagai
pusat perikanan dan energi. Namun, ia menyarankan tetap harus memperkuat
kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK).
“Tak hanya itu, tapi ada juga pengembangan potensi ekonomi
melalui koridor ekonomi, serta harus membangun infrastruktur untuk meningkatkan
konektivitas, serta listrik, energi, dan sarana air bersih,” tegasnya.
Pengembangan wilayah bagian timur Indonesia juga bisa
ditingkatkan melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Serta merangsang pihak
perbankan untuk mengucurkan kredit pembangunan di sana.
6.
Teori
& analisis pembangunan ekonomi daerah
Perbedaan
karakteristik wilayah berarti perbedaan potensi yang dimiliki, sehingga
membutuhkan perbedaan kebijakan untuk setiap wilayah. Untuk menunjukkan adanya
perbedaan potensi ini maka dibentuklah zona-zona pengembangan ekonomi wilayah.
Zona
Pengembangan Ekonomi Daerah adalah pendekatan pengembangan ekonomi daerah
dengan membagi habis wilayah sebuah daerah berdasarkan potensi unggulan yang
dimiliki, dalam satu daerah dapat terdiri dari dua atau lebih zona dan sebuah
zona dapat terdiri dari dua atau lebih cluster. Setiap zona diberi nama sesuai
dengan potensi unggulan yang dimiliki, demikian pula pemberian nama untuk
setiap cluster, misalnya : Zona Pengembangan Sektor Pertanian yang terdiri dari
Cluster Bawang Merah, Cluster Semangka, Cluster Kacang Tanah, dst.
Zona
pengembangan ekonomi daerah (ZPED) adalah salah satu solusi yang dapat
diterapkan untuk membangun ekonomi suatu daerah untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakat di masa depan. Pola pembangunan ekonomi dengan pendekatan Zona
Pengembangan Ekonomi Daerah (ZPED), bertujuan:
1. Membangun setiap
wilayah sesuai potensi yang menjadi keunggulan kompetitifnya/kompetensi intinya.
2. Menciptakan proses
pembangunan ekonomi lebih terstruktur, terarah dan berkesinambungan.
3. Memberikan peluang
pengembangan wilayah kecamatan dan desa sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
daerah.
Hal ini
sejalan dengan strategi pembangunan yang umumnya dikembangkan oleh para ahli
ekonomi regional dewasa ini. Para ahli sangat concern dengan ide pengembangan
ekonomi yang bersifat lokal, sehingga lahirlah berbagai Strategi Pembangunan
Ekonomi Lokal (Local Economic Development/LED).
CONTOH
SOAL :
1.
Ketentuan mengenai
pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia tercantum dalam pasal 18 ayat (2)
Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa…
a.
“Pemerintahan
daerah propinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan” *
b.
“Pemerintahan
daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”
c. “Pemerintahan daerah propinsi, daerah
kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut
asas daerah tugas pembantuan”
d. “Pemerintahan daerah kota mengatur
dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan”
2.
PAD
singkatan dari ….
a. Pendapatan asli daerah *
b. Pendapatan asli dewan
c. Pendapatan asli dekan
d. Pendapatan asli distribusi
3. Untuk menghitung pertumbuhan regional
secara umum yaitu ….
a. Pertumbuhan output
b. Pertumbuhan output per pekerja
c. Pertumbuhan output perkapita
d. Semua jawaban benar *
4. Pengembangan Ekonomi
Daerah (ZPED), bertujuan ….
a.
Membangun
setiap wilayah sesuai potensi yang menjadi keunggulan kompetitifnya/kompetensi
intinya.
b.
Menciptakan
proses pembangunan ekonomi lebih terstruktur, terarah dan berkesinambungan.
c.
Memberikan
peluang pengembangan wilayah kecamatan dan desa sebagai pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi daerah.
d. Semua jawaban benar *
5. Ada 2 faktor ketimpangan yaitu …
a. karena ketidaksetaraan anugerah awal
(initial endowment) diantara pelaku-pelaku ekonomi
b. karena strategi pembangunan dalam era
PJP I lebih bertumpu pada aspek pertumbuhan (growth)
c. jawaban a dan b benar *
d. jawaban a dan b salah
VII SEKTOR
PERTANIAN
1. Sektor pertanian di Indonesia
§ Selama periode 1995-1997è PDB sektor pertanian (peternakan, kehutanan & perikanan) menurun &
sektor lain spt menufaktur meningkat.
§ Sebelum krisis moneter,
laju pertumbuhan output sektor pertanian < ouput sektor non pertanian
§ 1999 semua sektor turun
kecuali listrik, air dan gas.
Rendahnya pertumbuhan
output pertanian disebabkan:
§ Iklimè
kemarau jangka panjang berakibat volume dan daya saing turun
§ Lahanè
lahan garapan petani semakin kecil
§ Kualitas SDMè
rendah
§ Penggunaan Teknologièrendah
Sistem perdagangan
dunia pasca putaran Uruguay (WTO/GATT) ditandatangani oleh 125 negara anggota
GATT telah menimbulkan sikap optimisme & pesimisme Negara LDC’s:
§ Optimisè Persetujuan perdagangan
multilateral WTO menjanjikan berlangsungnya perdagangan bebas didunia terbebas
dari hambatan tariff & non tariff
§ Pesimisè Semua negara mempunyai kekuatan ekonomi yg berbeda. DC’s mempunyai
kekuatan > LDC’s
2. Nilai tukar petani
Nilai tukarè nilai tukar
suatu barang dengan barang lainnya. Jika harga produk A Rp 10 dan produk B Rp 20, maka nilai
tukar produk A thd B=(PA/PB)x100% =1/2. Hal ini berarti 1 produk A ditukar
dengan ½ produk B. Dengan menukar ½ unit B dapat 1 unit A. Biaya
opportunitasnya adalah mengrobankan 1 unit A utk membuat ½ unit B.
Dasar Tukar (DT):
§ DT dalam negeriè pertukaran 2 barang yang
berbeda di dalam negeri dg mata uang nasional
§ DT internasional / Terms
Of Tradeè pertukaran 2 barang yang
berbeda di dalam negeri dg mata uang internasional
Nilai Tukar Petaniè Selisih
harga output pertanian dg harga inputnya (rasio indeks harga yang diterima
petani dg indeks harga yang dibayar).
Semakin tinggi NTPè semakin baik.
NTP setiap wilayah berbeda dan ini tergantung:
§ Inflasi setiap wilayah
§ Sistem distribusi input
pertanian
§ Perbedaan ekuilibrium pasar komoditi pertanian setiap
wilayah (D=S)
D>Sè harga naik & D<Sè harga turun
3. Investasi di sector pertanian
Investasi di sector pertanian
tergantung :
§ Laju pertumbuhan output
§ Tingkat daya saing global komoditi pertanian
Investasi:
§ Langsungè Membeli mesin
§ Tdk Langsungè Penelitian & Pengembangan
Hasil
penelitian:
§ Supranto (1998)è laju pertumbuhan sektor ini rendah, karena PMDN & PMA serta kerdit yg
mengalir kecil. Hal ini karena resiko lebih tinggi (gagal panen) dan nilai
tambah lebih kecil di sektor pertanian.
Tabel
5.17 Investasi di sektor pertanian & industri manufaktur (Rp milyar)
1993-96
|
Sektor
|
1993
|
1994
|
1995
|
1996
|
|
Pertanian
|
2.735
|
4.545
|
7.128
|
15.284
|
|
Manufaktur
|
24.032
|
31.922
|
43.342
|
59.218
|
§ Simatupang (1995)è kredit perbankan lebih byk megalir ke sektor non pertanian & jasa
dibanding ke sektor pertanian.
Tabel
5.18 Kredit Perbankan di sektor pertanian & industri manufaktur (Rp milyar)
1993-96
|
Sektor
|
1993
|
1994
|
1995
|
1996
|
|
Pertanian
|
7.846
|
8.956
|
9.841
|
11.010
|
|
Manufaktur
|
11.346
|
13.004
|
15.324
|
15.102
|
Penurunan ini disebabkan ROI sector
pertanian +/- 15 %,shg tdk menarik.
4.
Keterkaitan
pertanian dengan industry
Salah satu penyebab krisis ekonomiè kesalahan industrialisasi yg tidak
berbasis pertanian. Hal ini terlihat bahwa laju pertumbuhan sector pertanian
(+) walaupu kecil, sedangkan industri manufaktur (-). Jepang, Taiwan &
Eropa dlm memajukan industri manufaktur diawali dg revolusi sector pertanian.
Alasan sector pertanian harus kuat
dlm proses industrialisasi:
§ Sektor pertanian kuatè pangan terjaminè tdk ada laparèkondisi sospol stabil
§ Sudut Permintaanè Sektor pertanian kuatè pendapatan riil
perkapita naikè permintaan oleh petani thd
produk industri manufaktur naik berarti industri manufaktur berkembang &
output industri menjadi input sektor pertanian
§ Sudut Penawaranè permintaan produk pertanian sbg bahan baku oleh
industri manufaktur.
§ Kelebihan output siktor
pertanian digunakan sbg sb investasi sektor industri manufaktur spt industri
kecil dipedesaan.
Kenyataan di
Indonesia keterkaitan produksi sektor pertanian dam industri manufaktur sangat
lemah dan kedua sektor tersebut sangat bergantung kepada barang impor.
CONTOH SOAL :
1.
PDB sektor pertanian (peternakan,
kehutanan & perikanan) menurun & sektor lain spt menufaktur meningkat
selama periode ...
a. 1995-1989
b. 1995-1997*
c. 1996-1995
d. 1994-1995
2.
Rendahnya
pertumbuhan output pertanian disebabkan …
a.
Iklim,Lahan,kualitas
SDM,pengunaan teknologi *
b.
Kualitas SDM
c.
Penggunaan
Teknologi
d. Iklim
- DT dalam negeri adalah ...
a. pertukaran 2 barang yang
berbeda di dalam negeri dg mata uang asing
b. pertukaran 2 barang yang
berbeda di dalam negeri dg mata uang nasional *
c. pertukaran 2 barang yang
berbeda di dalam negeri dg mata uang rakyat
d. pertukaran 2 barang yang
berbeda di dalam negeri dg mata uang petani
4.
Investasi
di sector pertanian tergantung :
a. Laju pertumbuhan output
b.
Tingkat daya
saing global komoditi pertanian
c. Jawaban a dan b benar *
d. Jawaban a dan b salah
5.
Alasan sector
pertanian harus kuat dlm proses industrialisasi …
a. Sector pertanian kuat
b. Sudut permintaan
c. Sudut penawaran
d. Semua jawaban benar*
VIII . INDUSTRIALISASI DI INDONESIA
1.
Konsep industrialisasi di indonesia
Awal
konsep industrialisasiè Revolusi
industri abad 18 di Inggris è Penemuan
metode baru dlm pemintalan dan penemuan kapas yg menciptakan spesialisasi
produksi dan peningkatan produktivitas factor produksi
Selanjutnya
penemuan baru pengolahan besi & mesin uap shg mendorong inovasi è Baja, kereta dan kappa tenaga uap.
Setelah PD II muncul teknolgi baru è Asembly
line, listrik, motor, barang sintetis, telekomunikasi,
elektronik, bio, computer & robot
Perubahan Pola dan Volume Perdagangan Dunia dan
Proses Industrialisasi di dunia
Industrialisasiè suatu proses interkasi antara perkembangan
teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan
pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi.
Industrialisasi
merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan
ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan penduduk sedikit & kekayaan alam
meilmpah seperti Kuwait & libya ingin mencapai pendapatan yang tinggi tanpa
industrialisasi.
2.
Faktor pendorong industrialisasi
·
Kemampuan teknologi dan
inovasi
·
Laju pertumbuhan pendapatan
nasional per kapita
·
Kondisi dan struktur awal
ekonomi dalam negeri. Negara yang awalnya memiliki industri dasar/primer/hulu
seperti baja, semen, kimia, dan industri tengah seperti mesin alat produksi
akan mengalami proses industrialisasi lebih cepat
·
Besar pangsa pasar DN yang
ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jumlah penduduk. Indonesia dengan 200
juta orang menyebabkan pertumbuhan kegiatan ekonomi
·
Ciri industrialisasi yaitu
cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri
unggulan dan insentif yang diberikan.
·
Keberadaan SDA. Negara dengan
SDA yang besar cenderung lebih lambat dalam industrialisasi
·
Kebijakan/strategi pemerintah
seperti tax holiday dan bebas bea masuk bagi industri orientasi ekspor.
3.
Perkembangan sektor industri manufaktur nasional
Perkembangan industry manufaktur disetiap Negara juga dapat
digunakan untuk melihat perkembangan industry Negara itu secara nasional,sejak krisis
ekonomi dunia pada tahun 1998 dan perontokan perekonomian nasional
,perkembangan industry di Indonesiasecara nasional belum memperlihatkan
perkembangan yang memuaskan.bahkan perkembangan industry nasional ,khususnya
industry manufaktur ,lebih sering merosot perkembangannya dibandingkan dengan
grafik peningkatannya
Sebuah hasil riset yang dilakukan pada tahun 2006,oleh sebuah
lembaga internasional terhadap prospek industry manufaktur di berbagai Negara
melihatkan hadil yang cukup memprihatinkan.dari 60 negara yang menjadi obyek
penelitian,posisi industry manufaktur Indonesia berada diposisi terbawah
bersama beberapa Negara asia seperti Vietnam,riset yang meneliti aspek daya
saing produk industry manufaktur Indonesia dipasar global,menempatkan pada posisi
terendah.
4.
Permasalahan industri
Masalah
dalam industri manufaktur nasional:
1.
Kelemahan struktural
- Basis ekspor & pasar masih sempitè
walaupun Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam & TK, tapi produk
& pasarnya masih terkonsentrasi:
a. terbatas pada empat produk
(kayu lapis, pakaian jadi, tekstil & alas kaki)
b. Pasar tekstil & pakaian
jadi terbatas pada beberapa negara: USA, Kanada,
Turki & Norwegia
c. USA, Jepang & Singapura
mengimpor 50% dari total ekspor tekstil &
pakaian jadi dari Indonesia
d.
Produk penyumbang 80% dari ekspor manufaktur indonesia masih mudah
terpengaruh oleh perubahan
permintaan produk di pasar terbatas
e. Banyak produk manufaktur
terpilih padat karya mengalami penurunan
harga muncul pesaing baru seperti
cina & vietman
f. Produk manufaktur tradisional menurun
daya saingnya sbg akibat factor
internal seperti tuntutan kenaikan
upah
2.
Kelemahan organisasi
- Industri kecil & menengah masih terbelakangèproduktivtas rendahè
Jumlah Tk masih banyak (padat Karya)
- Konsentrasi Pasar
- Kapasitas menyerap & mengembangkan teknologi masih lemah
- SDm yang lemah
5. Strategi pembangunan sektor industri
Startegi
pelaksanaan industrialisasi:
1. Strategi substitusi impor
(Inward Looking).
Bertujuan
mengembangkan industri berorientasi domestic yang dapat
menggantikan produk impor. Negara yang
menggunakan strategi ini adalah Korea
& Taiwan
Pertimbangan menggunakan strategi ini:
§ Sumber daya alam & Faktor produksi cukuo tersedia
§ Potensi permintaan dalam negeri memadai
§ Sebagai pendorong perkembangan industri manufaktur dalam negeri
§ Kesempatan kerja menjadi luas
§ Pengurangan ketergantungan impor, shg defisit berkurang
2. Strategi promosi ekspor
(outward Looking)
Beorientasi ke pasar internasional dalam usaha
pengembangan industri
dalam negeri yang memiliki keunggulan
bersaing.
Rekomendasi agar strategi ini dapat
berhasil :
- Pasar harus menciptakan sinyal harga yang benar yang merefleksikan
kelangkaan barang ybs baik pasar input maupun output
- Tingkat proteksi impor harus rendah
- Nilai tukar harus realistis
- Ada insentif untuk peningkatan ekspor
CONTOH SOAL :
1. Awal
konsep industrialisasi revolusi pada abad …
a. 12
b. 14
c. 17
d. 18
*
2. Industrialisasi
adalah …
a. suatu
proses interkasi antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan
perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong
perubahan struktur ekonomi *
b. suatu proses
eksternal antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan
dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan
struktur ekonomi
c. suatu
proses interkasi zamanteknologi,
inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi
d. suatu
proses anarki antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan
perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong
perubahan struktur ekonomi
3. Ciri industrialisasi yaitu....
a. cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap
komplementasi, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan
b. Ciri industrialisasi yaitu cara pelaksanaan
industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan dan
insentif yang diberikan*
c. Ciri industrialisasi yaitu cara pelaksanaan industrialisasi
seperti tahap implemen, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan
d. Ciri industrialisasi yaitu cara pelaksanaan
industrialisasi seperti tahap, jenis industri unggulan dan insentif yang
diberikan
4. Strategi pelaksanaan industrialisasi
dibagi menjadi 2 yaitu
a. Strategi substitusi impor
b. Strategi promosi ekspor
c. Semua jawaban salah
d. Semua jawaban benar *
5. Negara yang menggunakan metode
strategi substitusi impor adalah …
a. Korea dan Taiwan* c. korea dan afrika
b. Indonesia dan Malaysia d. inggris dan amerika
SUMBER :
kuswanto.staff.gunadarma.ac.id/.../